MENGENAL AKAD SYIRKAH

Oleh : KARTIKO ADI WIBOWO

Bendahara Pengurus KSPPS BINAMA

Pelaksanaan ekonomi Islam salah satunya adalah dengan praktik akad syirkah. Akad syirkah oleh banyak kalangan dianggap sebagai bentuk yang paling ideal dalam implementasi ekonomi Islam. Akad syirkah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dengan ketentuan setiap pihak memberikan kontribusi dana atau amal dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan kerugian akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan.

Praktik pada lembaga keuangan akad syirkah lebih sering disebut dengan musyarakah. Akad musyarakah lebih populer di kalangan pegiat ekonomi Islam yang juga sering disebut sebagai ekonomi syariah. Sebagai acuan operasional adalah fatwa Majelis Ulama Indonesia no. 08/DSN-MUI/IV/2000.

Namun jika kita pelajari lebih detail maka sebenarnya akad syirkah memiliki turunan yang lebih banyak. Sebagaimana pengertiannya, maka syirkah adalah sebuah bentuk kerjasama atau kongsi dalam hal usaha maupun kepemilikan. Oleh karenanya, syirkah dapat dibentuk dari kesepakatan maupun dari hasil akibat hukum perikatan yang lain. Secara umum maka syirkah dapat terbentuk karena dua hal yaitu kepemilikan dan karena perjanjian (kesepakatan). Kedua syirkah itu disebut sebagai syirkah amlak (kepemilkan) dan syirkah uqud (akad). Adapun pelaku syirkah lazimnya disebut sebagai syarik.

Syirkah amlak terdiri atas jenis syirkah amlak ikhtiari dan amlak ijbari. Syirkah amlak ikhtiari terbentuk dalam kepemilikan karena hibah, wasiat atau pembelian. Adapun syirkah amlak ijbari terjadi secara otomatis seperti hak waris karena kematian seseorang. Selanjutnya syirkah yang banyak dipraktikkan oleh lembaga keuangan adalah syirkah uqud, yaitu bentuk kerjasama antara para syarik dengan ketentuan-ketentuan yang disepakati bersama.

Syirkah uqud dapat berbentuk kerjasama harta yaitu sebagai syirkah amwal, kerjasama keahlian sebagai syirkah abdan dan kerjasama karena reputasi/good will sebagai syirkah wujuh. Syirkah pada lembaga keuangan terdapat beberapa bentuk seperti :

a. Syirkah Inan

Kerjasama antara dua pihak atau lebih dalam kerja dan modal, baik dijalankan secara bersama-sama ataupun dengan menunjuk salah satu syarik untuk menjalankannya. Modal yang disetorkan dapat berbeda-beda.

b. Syirkah Mufawadah

Kerjasama antara syarik dengan jumlah modal yang sama dengan  ketentuan keuntungan dan kerugian juga dibagi sama.

c. Syirkah Abdan

Kerjasama usaha antara syarik yang meliputi kontribusi kerja tanpa kontribusi modal, yaitu berupa kerja fisik atau kerja pikiran. Syirkah abdan tidak mensyaratkan kesamaan profesi sehingga memungkinkan kerjasama antara pihak yang menyumbang kerja pikirannya dan satu pihak lagi kerja fisiknya.

d. Syirkah Wujuh

Kerjasama usaha antara para syarik yang masing-masing pihak  memberikan kontribusi kerja dimana para syarik memiliki reputasi baik dan juga keahlian dalam berbisnis.

e. Mudharabah

Kerjasama antara pemodal (shahibul maal) dan pelaksana (mudharib) dimana shahibul maal menanggung semua risiko keuangan dan mudharib bertanggungjawab sebatas kerugian operasional dimana tidak ada penipuan dalam pelaksanaannya.

 

Prinsip utama pada akad musyarakah (syirkah) adalah bagi hasil (profit sharing) dan bagi rugi (loss sharing)  sesuai ketentuan yang disepakati. Fatwa MUI tentang musyarakah mengatur tentang pembagian hasil sebagai berikut :

  1. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau penghentian musyarakah.
  2. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra.
  3. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu, kelebihan atau persentase itu diberikan kepadanya.
  4. Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad.
  5. Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masing-masing dalam modal.

Akad syirkah memberikan peluang setiap muslin untuk dapat mengembangkan usaha dengan melakukan kerjasama yang saling menguntungkan dan berpatokan pada prinsip keadilan. Agenda untuk menjelaskan dan mengembangkan kerjasama ekonomi yang berbasis syirkah perlu terus digaungkan agar ekonomi Islam semakin berjaya di bumi Allah ini, Aamiin ya rabbal ‘aalamiin.